Pembinaan Pemuda Kampung Yongsu Desoyo Dalam Pemanfaatan Sampah Organik dan Ampas Sagu Menjadi Pupuk Bokashi
DOI:
https://doi.org/10.57218/jompaabdi.v5i1.2638Keywords:
Ampas sagu, Bokashi, Pangkasan tanaman, Pemuda, Yongsu DesoyoAbstract
Kampung Yongsu Desoyo memiliki potensi hortikultura melimpah di kaki Gunung Cycloop, namun pengembangannya terhambat oleh aksesibilitas yang hanya dapat dijangkau melalui jalur laut. Ketergantungan pada pupuk kimia dari kota menjadi kendala utama karena harga pupuk yang mahal dan biaya transportasi perahu motor yang tinggi. Selama ini, petani hanya mengandalkan proses pelapukan alami dari sisa pangkasan tanaman dan limbah organik, namun cara ini dinilai kurang efektif karena proses dekomposisi yang lama dan risiko penumpukan sampah lingkungan. Selain itu, limbah ampas sagu yang melimpah di dusun sekitar juga belum dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda kampung dalam mengolah limbah organik rumah tangga, sisa pangkasan tanaman, dan ampas sagu menjadi pupuk bokashi. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif melalui demonstrasi plot dan pendampingan teknis. Pemuda dilatih mengolah berbagai biomassa lokal tersebut menggunakan aktivator organik berupa EM4 untuk mempercepat proses fermentasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mitra mengenai teknik budidaya intensif dan manajemen limbah. Pemanfaatan sampah organik dari rumah tangga, sisa pangkasan dari tanaman di sekitar dan ampas sagu menjadi pupuk bokashi terbukti efektif menyediakan nutrisi bagi tanaman buah seperti rambutan, pete, pisang, pinang, durian tanpa harus bergantung pada input atau pasokan pupuk kimia dari luar kampung. Kesimpulannya, pembinaan ini berhasil menciptakan kemandirian pupuk, mengurangi beban limbah lingkungan, dan memberdayakan pemuda sebagai aktor penggerak pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap kondisi geografis wilayah pesisir.
References
Altieri, M. A. (2018). Agroecology: The science of sustainable agriculture. CRC Press.
Arsyad, M., & Rahim, A. (2020). Pemanfaatan limbah ampas sagu sebagai pupuk organik bokashi untuk meningkatkan pendapatan petani. Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Pertanian, 4(1), 12–18.
Food and Agriculture Organization. (2017). Soil organic carbon: The hidden potential. FAO.
Hidayat, R., et al. (2021). Pemberdayaan kelompok tani melalui pelatihan pembuatan pupuk bokashi berbasis bahan baku lokal di wilayah pesisir. Jurnal Inovasi dan Teknologi Terapan, 2(2), 85–92.
Higa, T., & Parr, J. F. (1994). Beneficial and effective microorganisms for a sustainable agriculture and environment. International Nature Farming Research Center.
Indriani, Y. H. (2016). Membuat kompos secara kilat. Penebar Swadaya.
Lestari, S., & Wibowo, A. (2020). Pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Jurnal Agronomi Indonesia, 48(2), 123–130.
Limbongan, J., & Malik, A. (2022). Analisis potensi biomassa di kaki Gunung Cycloop sebagai sumber nutrisi tanaman hortikultura. Jurnal Agroteknologi Papua, 6(1), 45–53.
Prasetyo, E., & Utomo, S. (2023). Efektivitas EM4 dalam mempercepat fermentasi limbah organik rumah tangga menjadi pupuk cair dan padat. Jurnal Pengabdian Lingkungan, 5(3), 210–218.
Sari, N. M., et al. (2019). Pemanfaatan sisa pangkasan tanaman dan ampas sagu untuk kemandirian pupuk organik di kelompok tani. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan, 3(4), 112–120.
Sutanto, R. (2018). Pertanian organik: Menuju pertanian alternatif dan berkelanjutan. Kanisius.









