Pola Pengobatan Penyakit Tuberculosis Paru dan Anemia Gravis pada Pasien Rawat Inap di RSUD Provinsi Gorontalo
DOI:
https://doi.org/10.57218/jkj.Vol5.Iss1.2241Kata Kunci:
anemia, evaluasi terapi, masalah terkait obat, terapi farmakologis, tuberkulosisAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pengobatan dan mengevaluasi kesesuaian terapi pada pasien tuberkulosis paru dengan anemia gravis di RSUD Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus klinis dengan pendekatan kualitatif deskriptif, karena memungkinkan analisis mendalam terhadap kondisi klinis yang kompleks dengan memanfaatkan data rekam medis yang lengkap dari satu pasien rawat inap. Populasi penelitian adalah seluruh pasien tuberkulosis paru rawat inap tahun 2023, dengan teknik purposive sampling diperoleh satu pasien laki-laki berusia 22 tahun sebagai sampel. Data dikumpulkan dari rekam medis yang mencakup informasi klinis, hasil pemeriksaan laboratorium, serta terapi yang diberikan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengacu pada kriteria Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) untuk mengidentifikasi Drug Related Problem (DRP), yaitu masalah terkait penggunaan obat yang dapat memengaruhi keamanan dan efektivitas terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi yang diberikan telah sesuai dengan pedoman klinis, meliputi resusitasi cairan, transfusi Packed Red Cell (PRC), pemberian obat anti tuberkulosis standar, antibiotik spektrum luas, serta suplementasi vitamin. Secara klinis, terjadi peningkatan kadar hemoglobin dari 5,4 g/dL menjadi 11,4 g/dL setelah transfusi, disertai stabilisasi tekanan darah dan perbaikan gejala sesak napas. Namun, ditemukan adanya DRP, khususnya interaksi obat antara rifampisin sebagai induktor CYP3A4 dengan deksametason, serta isoniazid sebagai inhibitor CYP2D6 yang memengaruhi aktivasi kodein. Interaksi ini memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah penurunan efektivitas terapi dan risiko toksisitas.
Referensi
Aja, N., Ramli, R., & Rahman, H. (2022). Penularan Tuberkulosis Paru dalam Anggota Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Siko Kota Ternate. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 18(1), 78–87. https://doi.org/10.24853/jkk.18.1.78-87
Bontong, N. J., & Meilina, R. (2023). Analisa DRPS penggunaan obat anti tuberkulosis terhadap pasien TB di RSUD Tiom. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 9(2), 2615–2619.
Focsa, A., Sava, A., Ababei, A., & Apotrosoaei, M. (2021). Drug interactions in gastrointestinal disorders therapy. Romanian Journal of Pharmacology and Pharmacodynamics, 14 (June), 25–29. https://doi.org/10.37897/RJPhP.2021.S.5
Handy, A. J., Dewi Astuti, E. L., Ekowatiningsih, D., Mustafa, M., & Kesehatan Kemenkes Makassar, P. (2022). Studi literatur tindakan resusitasi cairan pada pasien perdarahan dengan syok hipovolemik. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 17(4), 136–145. https://jurnal.stikesnh.ac.id/index.php/jikd/article/view/1206
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan program penanggulangan tuberkulosis tahun 2022 (hlm. 1–147). Kemenkes RI. https://tbindonesia.or.id/pustaka_tbc/laporan-tahunan-program-tbc-2021/
Kurniaji, I., Rudiyanto, W., & Windarti, I. (2023). Anemia pada pasien tuberkulosis. Medical Profession Journal of Lampung, 13(1), 42–46. https://doi.org/10.53089/medula.v13i1.592
Matsushita, S., Hirayama, Y., Matsuyama, Y., Aoki, T., & Horitani, R. (2025). Varicella-Zoster virus meningitis with hypoglycorrhachia mimicking tuberculous meningitis: A case report. Cureus, 17(4), e83007. https://doi.org/10.7759/cureus.83007
Nahid, N. A., & Johnson, J. A. (2022). CYP2D6 pharmacogenetics and phenoconversion in personalized medicine. Expert Opinion on Drug Metabolism and Toxicology, 18(11), 769–785. https://doi.org/10.1080/17425255.2022.2160317
Nabilah, R. (2020). Hubungan kadar limfosit dan monosit dengan tingkat keparahan pada pasien tuberkulosis ekstraparu. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 7(3), 514–519. https://doi.org/10.33024/jikk.v7i3.2960
Prabowo, P. Y., Dharmayana, I. B. G. D., Manik, I. A., Widana, I. W., & Shuarsedana, I. G. A. (2022). Penggunaan high flow nasal cannula sebagai terapi oksigen pada kasus Covid-19 berat dengan obesitas: Laporan kasus. Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma, 11(1), 1. https://doi.org/10.30742/jikw.v11i1.1630
Rasdianah, N., Madania, Tutoli, T. S., Abdulkadir, W. S., Hidayat, A., & Suwandi, T. B. A. (2022). Studi efek samping obat antituberkulosis (OAT) pada pasien TB paru. Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR), 4(3), 707–717. https://doi.org/10.37311/jsscr.v4i3.16657
Septiani, L. D., Laili, H., Wahyuono, T., & Roosarjani, C. (2023). The effect of PRC (packed red cell) pre and post transfusions in NOK patients (cystic ovarian neoplasms) on indications of chronic anemia. Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1, 1422–1436. https://journal.csspublishing/index.php/ijm
Sari, M. (2021). Terapi tuberkulosis. Jurnal Medika Hutama, 03(01), 1571–1575. http://jurnalmedikahutama.com
Stevia, A., & Andriani, R. (2022). Pemantauan terapi obat pada pasien dengan penyakit tuberkulosis, anemia, efusi pleura dan DVT di Rumah Sakit X. Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal, 7(1), 27–34. https://doi.org/10.52447/scpij.v7i1.5373
Sugiharti, T., Hasyim, H., & Sunarsih, E. (2023). Hubungan faktor pejamu terhadap kejadian tuberkulosis paru: Literatur review. Jurnal Ners, 7(2), 811–815. https://doi.org/10.31004/jn.v7i2.14499
Suryadinata, P. Y. A., Suega, K., Wayan, I., & Gde Dharmayuda, T. (2022). Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian anemia defisiensi besi: A systematic review. E-Jurnal Medika Udayana, 11(2), 6. https://doi.org/10.24843/mu.2022.v11.i02.p02
Zumla, A., Raviglione, M., Hafner, R., & Ford, N. (2021). Tuberculosis. The Lancet, 397(10278), 1378–1390. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)32154-3.











